Hera Aprianti

Standar Kompetensi : Membaca

Kompetensi Dasar : Menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam sastra melayu klasik

Sastra melayu klasik

Sastra Melayu Klasik bermula pada abad ke-16 Masehi. Semenjak itu sampai sekarang gaya bahasanya tidak banyak berubah. Dokumen pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu klasik adalah sepucuk surat dari raja Ternate, Sultan Abu Hayat kepada raja João III di Portugal dan bertarikhkan tahun 1521 Masehi.

Sastra Melayu atau Kesusastraan Melayu adalah sastra yang hidup dan berkembang di kawasan Melayu. Sastra Melayu mengalami perkembangan dan penciptaan yang saling mempengaruhi antara satu periode dengan periode yang lain. Situasi masyarakat pada jaman sebelum Hindu, jaman Hindu, jaman peralihan dari Hindu ke Islam, dan jaman Islam, berpengaruh kuat pada hasil-hasil karya sastra Melayu. Terjadi hubungan yang erat antara tahap perkembangan, kehadiran genre, dan faktor lain di luar karya sastra.
Sastra Melayu berkembang pesat pada jaman Islam dan sesudahnya, karena tema-tema yang diangkat seputar kehidupan masyarakat Melayu, meskipun beberapa ada pengaruh asing. Sebelum jaman Islam, konteks penceritaannya lebih berorientasi ke wilayah di luar Melayu, yaitu India dengan latar belakang kebudayaan Hindu.

Sastra Melayu Klasik adalah sastra yang hidup dan berkembang di daerah Melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam hingga mendekati tahun 1920-an di masa Balai Pustaka. Masa sesudah Islam merupakan zaman dimana sastra Melayu berkembang begitu pesat karena pada masa itu banyak tokoh Islam yang mengembangkan sastra Melayu.
Kesusastraan Melayu sebelum Islam tidak ada nuansa Islam sama sekali dan bentuknya adalah sastra lisan. Isi dan bentuk sastranya lebih banyak bernuansa animisme, dinamisme, dan Hindu-Budha, dan semua hasil karya tersebut dituangkan dalam bentuk prosa dan puisi. Untuk puisi, tampak tertuang ke dalam wujud pantun, peribahasa, teka-teki, talibun, dan mantra. Bentuk yang terakhir ini (mantra), sering dikenal dengan jampi serapah, sembur, dan seru. Sedangkan bentuk prosa, tampak tertuang dalam wujud cerita rakyat yang berisi cerita-cerita sederhana dan berwujud memorat (legenda alam gaib yang merupakan pengetahuan pribadi seseorang), fantasi yang berhubungan dengan makhluk-makhluk halus, hantu dan jembalang.
Perkembangan kesusastraan Melayu sesudah kedatangan Islam ditandai dengan penggunaan Huruf Arab yang kemudian disebut Tulisan Jawi atau Huruf Jawi, yang dalam perkembangannya dikenal dengan istilah Arab Melayu. Hal ini dikarenakan masyarakat Melayu merasa bahwa tulisan tersebut telah menjadi milik dan identitasnya. Huruf Jawi ini diperkenalkan oleh para pendakwah Islam untuk membaca al-Qur`an dan menelaah berbagai jenis kitab dari berbagai disiplin ilmu. Perkembangan penulisan ini sangat pesat karena Islam memperbolehkan semua orang untuk menulis dalam berbagai bidang.

Dilihat dari unsur-unsurnya, naskha sastra Melayu Klasik juga memiliki tema, penokohan, sudut pandang, alur, amanat, dan nilai-nilai, seperti halnya naskah sastra cerpen dan novel.

Ciri Sastra Melayu Klasik:

  1. Berbahsa Klise (Biasanya diawali: Syahdan, Hatta, Pada suatu hari, Alkisah)
  2. Ceritanya seperti Gambaran masyarakat yang statis
  3. Digunakan untuk mendidik masyarakat sekitar pada zaman itu
  4. Merupakan Sastra
    lisan (Diceritakan)
  5. Tidak diketahui nama pengarangnya (Anonim)
  6. Cerita berkisar kehidupan kekerajaan atau kaum bangsawan

Nilai Nilai yang terkandung dalam karya sastra melayu klasik:

  1. Nilai Agama : Terkait dengan kaidah keagamaan
  2. Nilai Moral : Nilai etika, sopan santun dan beradap
  3. Nilai Sosial Budaya : Nilai yang terkait dengan keadaan masyarakat pada zaman masyarakat pada cerita itu
  4. Nilai pendidikan : Usaha untuk mengubah seseorang menjadi lebih baik

Karakteristik Naskah Melayu Klasik
a. Penggunaan kosakata yang pada saat ini tidak lazim dipergunakan dalam berbahasa Indonesia.
Contoh: … akan menghibur hati yang masgul (sedih).
b. Cerita selalu diawali dengan kata penghubung yang menyatakan bahwa cerita tersebut tidak diketahui tempat dan waktu secara pasti.
Contoh: alkisah inilah cerita orang dahulu kala, hikayat namanya, terlalu indah-indah ceritanya…
c. Penggunaan kata penghubung maka dalam awal kalimat
Contoh: Maka titah sang Nata, ”Yayi Suri, telah sebenarnya seperti kata Adinda itu.” maka sang Nata pun membuat tempat memuja.
d. Penggunaan dikisi atau pilihan kata yang kurang tepat.
Contoh: Maka dikarang oleh segala orang yang bijaksana prama kawi.
e. Penggunaan kalimat yang tidak efektif
Contoh: Sebermula pada zaman dahulu ada raja di Tanah Jawa empat bersaudara, terlalu amat besar kerajaannya.
f. Cerita tidak ada pengarangnya atau anonim.

Bentuk-bentuk Karya Sastra Melayu Klasik

1. Karya Sastra Melayu Klasik – Gurindam Dua Belas
Kumpulan gurindam karya Raja Ali Haji, Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas sebab berisi 12 masalah, diantaranya tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.

2. Karya Sastra Melayu Klasik – Hikayat
Salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Baca Hikayat Hang Tuah.
3. Karya Sastra Melayu Klasik – Karmina
Populer disebut pantun kilat adalah pantun dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua langsung isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya dipakai untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.
- Contoh:
“Sudah gaharu cendana pula Sudah tahu masih bertanya pula”

4. Karya Sastra Melayu Klasik – Pantun
Serupa puisi 4 baris, berciri sajak a-b-a-b attau a-a-a-a. Dua baris awal merupakan sampiran, umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris ujung bagian isi, sebagai tujuan pantun.
- Contoh:
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

5. Karya Sastra Melayu Klasik – Seloka
Merupakan bentuk puisi Karya Sastra Melayu Klasik, berisi pepetah ataupun perumpamaan mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Lumrahnya ditulis empat baris menggunakan bentuk pantun atau syair, kadang kala bisa juga ditemukan pada seloka yang ditulis lebih dari empat-baris.
- Misal:
Anak pak dolah makan lepat
makan lepat sambil melompat
nak hantar kad raya dah tak sempat
pakai sms pun ok wat ?

6. Karya Sastra Melayu Klasik – Syair
Bagian puisi atau karangan dalam bentuk terikat, mengutamakan irama sajak. Biasanya berbentuk 4 baris, bernada aaaa, keempat baris itu mengandung makna penyair.

7. Karya Sastra Melayu Klasik – Talibun
Sejenis puisi lama seperti pantun sebaba memiliki sampiran dan isi, tapi lebih dari 4-baris (bisa 6-20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, seterusnya.
- Contoh:
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

Contohnya:

Pantun Sebagai Cermin Kehidupan Masyarakat Melayu

Setiap bangsa pada umumnya memiliki bentuk pengucapan puitik yang disukai untuk menyampaikan alam pikiran, perasaan, dan tanggapan Orang Melayu memilih pantun dan syair, sekalipun bentuk pengucapan lain seperti gurindam dan taromba (bahasa berirama) juga cukup disukai. Yang terakhir ini mirip dengan mantera.

Sebagai karangan terikat pada aturan persajakan tertentu, pantun memiliki kekhasan. Ia terdiri dari sampiran dan isi. Sampiran berperan sebagai pembayang bagi maksud yang ingin disampaikan, sedangkan isi berperan sebagai makna atau gagasan yang ingin dinyatakan.

Sebagai Pengucapan Puitik

Tidak banyak diketahui kapan pantun muncul dan dari akar apa ia dibentuk. Juga tidak banyak diketahui apa arti dari kata-kata pantun sebenarnya. Teks Melayu tertua yang dijumpai dan mulai menyebut pantun sebagai bentuk sajak yang popular dalam masyarakat Melayu ialah teks syair-syair tasawuf Abdul Jamal,  penyair dan sufi Melayu yang hidup di Barus dan Aceh pada abad ke-17 M dan merupakan murid dari Syekh Syamsudin Pasai. Syair Abdul Jamal itu sebutan pantun dengan kata-kata seperti bandun, bantun, dan lantun. Secara tersirat dalam syair itu pantun disebut sebagai puisi yang biasa dilantunkan secara spontan untuk menyindir, berseloroh, dan menghibur diri (Braginsky, 1975).

Dalam beberapa bahasa Nusantara seperti Sasak di Lombok dan Madura di Jawa Timur, kata-kata Pengertian pantun sebagai lirik yang dinyanyikan atau nyanyian itu sendiri telah disebutkan oleh seorang sarjana Belanda abad ke-19 M. J. J. de Hollander dalam bukunya Handleideing bij de beoefening der Maleische taal en letterkunde (1893).

Dominannya tema percintaan itu masih ditemui hingga sekarang. Pantun Melayu yang sangat popular misalnya seperti berikut ini:

Dari mana datangnya linta
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Di dalam masyarakat Melayu Banjar tema cinta juga dominan dalam pantun. Contohnya seperti berikut:

(Apa guna bermain pelita
Kalau tidak dengan sumbunya
Apa guna bermain cinta
Kalau tidak berani kawin)

Adapun pantun Jawa berikut ini ialah tentang pertemuan seorang pemuda dengan seorang gadis setelah lama tidak berjumpa:

Suwe ora jamu
Jamu godhong mentimun
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe ngelamun

C. Sampiran dan Isi

Kapan pantun muncul dalam sejarah kesusastraan Melayu? Tidak ada sarjana dapat memastikan. Namun ada sebuah bukti tertulis yang saya ketahui, yaitu dalam risalah tasawuf Hamzah Fansuri Asrar al-Arifin (Rahasia Ahli Makrifat). Risalah itu ditulis oleh sang Sufi pada abad ke-16 M, namun naskah yang ada merupakan yang ditulis pada akhir abad ke-17 M. Ada dua rangkap puisi yang mirip pantun dijumpai dalam naskah tersebut.

D. Estetika dan Cermin Kehidupan

Sebelum dijelaskan betapa pantun mencerminkan kehidupan masyarakat termasuk alam pikiran dan perasaaan, pandangan hidup dan kepercayaan serta adat istiadatnya, perlu kita lihat ciri-ciri estetik pantun. Melalui hasil penelitian sarjana seperti Winstedt, Wilkinson, van Ophuysen, Hooykaas, Harun Mat Piah dan dan Noria Mohamed, dan lain-lain, kita dapat menjelaskan seperti berikut:

Pertama, pantun pada umumnya terdiri dari empat baris dengan pola bunyi akhir a b a a b atau a a a a. Kendati demikian terdapat pantun yang terdiri dari dua, enam, dan delapan baris. Yang terakhir ini disebut talibun.

Kedua, setiap baris merupakan kesatuan yang terpisah, walau tidak jarang berkesinambungan dengan baris berikutnya. Baris pertama dan kedua merupakan sampiran, yang membayangi isi yang akan dihadirkan. Baris ketiga dan keempat disebut isi, berupa gagasan dan tanggapan yang hendak dinyatakan.

Ketiga, baris sampiran dan isi kerap memiliki kaitan arti di samping kesejajaran bunyi.

Keempat, tiap baris pada umumnya mengandungi empat kata dasar dengan jumlah suku kata antara delapan sampai sepuluh.

Kelima, sering terdapat klimaks berupa perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan pada bait isi.

Keenam, sampiran pada umumnya berisi lukisan alam yang terdapat di lingkungan sekitar. Ia sering hadir sebagai citraan-citraan simbolik yang dapat menjelaskan pandangan estetik orang Melayu, kedekatan dengan alam dan budaya masyarakatnya.

Adapun ciri batinnya dapat dirasakan melalui makna simbolik dari citraan dan gagasan yang hendak dihadirkan yang merujuk pada pandangan hidup, alam perasaan, gagasan, kepercayaan, dan sistem nilai yang dihayati masyarakat Melayu setelah mereka menganut agama Islam. Ciri batin inilah yang secara keseluruhan mencerminkan kehidupan masyarakat Melayu, khususnya berkenaan dengan estetika, metafisika, dan sistem sosial dan kekerabatan bangsa Melayu. Bagi orang Melayu semua itu saling terkait dan merupakan kesatuan yang tidak terpisa. Ini tercermin dalam pantun ringkas seperti berikut:

Yang kurik kundi, yang merah saga
Yang baik budi, yang indah bahasa

Tidak mengherankan jika Daillie (1988: 6) mengatakan bahwa pantun memberikan gambaran ringkas kehidupan dan alam orang Melayu dalam sebutir pasir. Di dalamnya tergambar semua unsur kehidupan manusia Melayu meliputi tanah, rumah, kebun, ladang, sawah, sungai, laut, gunung, hutan, pepohonan, buah-buahan, binatang, burung, ikan dan lain sebagainya; hal-hal bersahaja dalam kehidupan keseharian. Pantun juga mengekspresikan adat istiadat dan kebiasaan, kearifan, kepercayaan dan perasaan orang Melayu tentang segala hal, termasuk cinta mereka kepada sesama manusia, cinta kasih lelaki dan wanita, serta cinta kepada Tuhan dan Nabi.

Pertanyaan:

  1. Sebutkan ciri-ciri dari sastra melayu klasik!
  2. Sebutkan beberapa nilai-nilai yang terkandung dalam sastra melayu klasik!
  3. Apa saja bentuk karya melayu klasik!
  4. Pilih dan sebut 1 pantun, kemudian tentukan nilai yang terdapat dalam pantun tersebut!
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment